Gue lahir dan besar di sebuah desa kecil di Jawa Tengah, tempat pagi selalu dimulai dengan suara ayam dan bau tanah basah. Buat warga di sini, jalan-jalan jauh itu bukan hal yang lumrah. Paling banter kami pergi ke pasar kecamatan, atau ke rumah saudara di kota kabupaten yang jaraknya cuma 20 kilometer. Jadi waktu gue bilang mau naik ke Bukit Sikunir, reaksi pertama ibu gue cuma, "Lah, ngapain jauh-jauh ke Dieng? Itu kan dingin banget."
Dan itu titik awal cerita ini. Bukan soal destinasi mewah, bukan soal foto-foto estetik buat feed. Ini soal gimana warga desa seperti gue akhirnya bisa menginjak bukit yang selama ini cuma gue lihat di layar HP orang lain.
Baca juga: Kerja Sampai Malam? Minggu Depan Kabur ke Sini Dulu, Yuk
Nekat Itu Perlu, Tapi Perlu Dihitung Juga
Jujur aja, gue bukan tipe orang yang suka mendaki. Sepatu yang gue punya cuma sepatu kerja dan sandal jepit. Tapi ada satu momen waktu gue lihat video matahari terbit di Sikunir, dan gue mikir, "Masa iya seumur hidup gue cuma lihat langit dari kebun singkong?" Bukan berarti kebun singkong itu buruk, ya. Tapi kadang kita butuh lihat langit dari tempat lain supaya tahu dunia ini lebih luas dari yang kita kira.
Persiapan gue sederhana banget. Gue nabung tiga bulan dari hasil jualan hasil kebun dan sedikit kerja serabutan. Total terkumpul sekitar Rp700 ribu, dan itu sudah termasuk ongkos bus, penginapan murah di rumah warga, dan makan. Nggak ada tiket pesawat, nggak ada koper mahal. Cuma tas ransel pinjaman tetangga dan jaket tebal yang gue beli di pasar dengan harga Rp50 ribu.
"Kadang yang bikin kita nggak berangkat bukan karena nggak ada uang, tapi karena kita nggak pernah ngitung berapa sebenarnya yang kita butuh."
Pelajaran pertama yang gue dapat: nekat itu boleh, tapi harus disertai hitungan. Kalau gue cuma nekat tanpa nabung, ya nggak bakal ke mana-mana.
Jalan Kaki yang Bikin Napas Habis dan Kepala Jernih
Pendakian ke Sikunir itu sebenarnya nggak terlalu berat, kata orang-orang. Tapi buat gue yang sehari-hari cuma jalan di sawah, tanjakan berbatu itu lumayan bikin napas ngos-ngosan. Mulai naik sekitar jam tiga pagi, dalam gelap, cuma ditemani lampu HP dan suara orang-orang yang juga mendaki. Dinginnya bukan main. Tangan gue sampai kaku.
Di tengah perjalanan, gue sempat mau nyerah. Ada satu tanjakan yang rasanya kayak nggak ada ujungnya. Tapi ada bapak-bapak paruh baya yang jalan di depan gue, sambil bawa termos teh, dan dia cuma bilang, "Pelan-pelan aja, Mas. Yang penting sampai." Kalimat sesederhana itu ternyata nempel banget di kepala gue sampai sekarang.
Yang Gue Pelajari dari Puncak
Waktu akhirnya sampai di atas dan matahari mulai terbit, gue nggak bisa ngomong apa-apa. Bukan karena kedinginan, tapi karena terharu. Di bawah sana ada lahan-lahan, ada desa-desa kecil, ada orang-orang yang mungkin juga sedang berjuang dengan hidupnya masing-masing. Dan gue sadar, dunia ini ternyata bukan cuma soal kampung gue dan pasar kecamatan.
Ada beberapa hal yang gue bawa pulang dari perjalanan ini:
- Rasa cukup itu bisa dilatih. Gue nggak butuh penginapan mahal buat merasa bahagia. Rumah warga dengan kasur tipis dan selimut tebal sudah lebih dari cukup.
- Keberanian itu menular. Setelah gue berani naik Sikunir, tiba-tiba gue jadi berani coba hal-hal kecil lain di kampung, kayak ikut pelatihan atau bantu usaha tetangga.
- Jangan tunggu kaya buat jalan-jalan. Yang penting bukan seberapa jauh kita pergi, tapi seberapa siap kita ngatur uang dan waktu.
- Cerita itu lebih berharga dari foto. Foto boleh hilang dari HP, tapi cerita soal bapak yang bawa termos teh itu bakal gue ceritain ke anak cucu.
Buat Kamu yang Tinggal di Kampung, Ini Pesan Gue
Gue tahu rasanya jadi orang desa yang sering mikir, "Ah, tempat kayak gitu buat orang kota." Tapi percaya deh, bukit, pantai, atau danau itu nggak pernah nanya KTP kamu dari mana. Yang bikin kita nggak berangkat biasanya cuma pikiran sendiri yang bilang kita nggak pantas ke sana.
Mulai dari yang kecil aja. Kalau belum sanggup ke Sikunir, coba dulu ke bukit atau sungai terdekat di kecamatan kamu. Latih keberaniannya dulu. Nabung sedikit-sedikit, tanya-tanya ke orang yang pernah pergi, dan jangan malu jadi pemula. Nggak ada yang langsung jago mendaki dalam sehari.
Yang paling penting, jangan bandingin perjalanan kamu dengan orang lain di media sosial. Mereka punya cerita sendiri, kamu juga. Perjalanan gue ke Sikunir mungkin biasa banget buat orang yang sudah keliling Indonesia. Tapi buat gue, itu salah satu hal paling berani yang pernah gue lakukan.
Sekarang, tiap kali gue balik ke kebun singkong dan lihat langit pagi, gue selalu ingat puncak itu. Bukan karena pemandangannya, tapi karena gue tahu: kalau gue bisa sampai ke sana, berarti banyak hal lain juga bisa gue capai. Dan itu pelajaran yang nggak bisa gue dapat dari mana-mana selain dari jalan kaki yang bikin napas habis itu.