Gue tinggal di Bekasi, punya satu anak umur enam tahun, dan istri yang kerjanya juga padat. Liburan buat kami biasanya berarti sesuatu yang jauh, mahal, dan bikin capek di jalan. Bulan lalu kami coba hal yang agak aneh: liburan sebulan penuh tapi nggak keluar Jawa Barat. Nggak ada tiket pesawat, nggak ada hotel berbintang. Cuma akhir pekan yang kami pakai buat jalan-jalan ke tempat yang jaraknya masih bisa ditempuh mobil dalam dua jam.
Hasilnya? Di luar dugaan. Anak kami yang biasanya rewel di pesawat malah lebih santai. Istri gue yang selalu pusing mikirin itinerary jadi lebih tenang. Dan gue sendiri, yang biasanya balik kerja Senin dengan badan pegal, kali ini balik dengan kepala lebih ringan.
Kenapa kami pilih liburan lokal sebulan, bukan sekali jauh
Sebenarnya ini keputusan setengah terpaksa. Bonus tahunan kami kepotong, jadi rencana ke Bali batal. Istri gue ngusul, "Gimana kalau tiap Sabtu kita ke tempat baru yang deket aja?" Awalnya gue skeptis. Rasanya nggak adil buat anak, masa liburannya cuma ke Bogor terus.
Tapi setelah dihitung-hitung, ada logikanya. Liburan sekali jauh itu biayanya gede, dan energi yang habis di perjalanan juga besar. Sementara kalau dipecah jadi empat akhir pekan, biayanya lebih kecil, dan anak nggak kelelahan. Kami coba deh sebulan itu. Nggak ada target muluk, cuma satu tempat per akhir pekan.
Baca juga: Kerja Sampai Malam? Minggu Depan Kabur ke Sini Dulu, Yuk
Yang penting di sini: kami nggak mencari tempat yang "wajib dikunjungi". Kami cari yang dekat, ramah anak, dan nggak bikin dompet menjerit. Ternyata pilihan yang masuk kriteria itu banyak banget.
Apa aja yang kami coba selama sebulan itu
Minggu pertama kami ke kebun strawberry di Lembang. Anak gue excited setengah mati karena boleh petik sendiri. Kami cuma keluar biaya masuk dan strawberry yang dipetik, total di bawah Rp200 ribu buat bertiga. Minggu kedua kami ke Curug di Sentul. Ini agak menantang karena jalannya naik-turun, tapi anak kami yang biasanya minta digendong malah semangat jalan sendiri karena banyak teman seumuran.
Minggu ketiga kami coba hal yang lebih "nempel" ke kota: staycation di hotel murah dekat rumah. Ini yang paling nggak gue sangka. Anak gue senengnya bukan main cuma karena bisa berenang dan sarapan buffet. Padahal hotelnya cuma bintang tiga, jaraknya 20 menit dari rumah. Istri gue bilang, "Ini mah liburan tanpa drama packing."
Minggu keempat kami ke kebun binatang mini dan taman edukasi di Bogor. Lagi-lagi bukan tempat hits, tapi anak kami puas. Pulangnya tidur pulas di mobil, dan kami berdua bisa ngobrol tanpa diganggu.
Yang berubah di rutinitas kami
Ini bagian yang paling gue rasain. Biasanya akhir pekan kami habis buat hal-hal nggak jelas: bersih-bersih rumah setengah hari, anak main gadget, gue scroll HP. Setelah sebulan dipaksa punya rencana kecil tiap Sabtu, ritme kami berubah.
- Anak lebih jarang minta gadget. Karena tiap akhir pekan dia tahu bakal ada kegiatan, dia lebih sabar nunggu. Kadang dia sendiri yang nanya, "Minggu ini ke mana, Yah?"
- Istri gue lebih santai. Nggak ada drama packing besar, nggak ada cemas ketinggalan penerbangan. Semua persiapan bisa dilakukan Jumat malam sambil nonton TV.
- Gue jadi lebih kenal sekitar. Selama ini gue cuma tahu jalan tol dan mall. Sekarang gue tahu ada kebun dan curug yang cuma sejam dari rumah.
- Tabungan nggak jebol. Total pengeluaran sebulan itu masih lebih murah dari satu tiket pesawat pulang-pergi ke luar Jawa buat bertiga.
Yang perlu kamu siapkan kalau mau coba juga
Gue nggak mau ngegombal, ini bukan resep ajaib. Ada beberapa hal yang harus kamu siapkan biar nggak berantakan.
Pertama, komitmen waktu. Ini yang paling susah buat keluarga kecil di kota besar. Kalau kamu nggak sengaja blok kalendernya, akhir pekan bakal ketelan kerjaan atau acara lain. Kami sampai bikin grup WA kecil khusus buat "rencana Sabtu" biar nggak lupa.
Kedua, riset ringan tapi rutin. Gue biasanya cari tempat di hari Kamis, cek jarak, cek apakah ramah anak, cek ulasan soal toilet dan tempat makan. Nggak perlu riset berjam-jam, cukup 15 menit. Kalau kelamaan malah jadi beban.
Ketiga, siapkan dana kecil per akhir pekan. Kami patok sekitar Rp300 ribu sampai Rp500 ribu per Sabtu, tergantung tempatnya. Dengan patokan ini, kami nggak kalap dan nggak stres mikirin biaya.
Yang paling gue pelajari: liburan itu bukan soal seberapa jauh kamu pergi, tapi seberapa hadir kamu di sana. Anak gue nggak peduli itu Bali atau Bogor. Yang dia ingat, ayahnya ikut main air dan nggak buka HP.
Efek setelah sebulan, jujur aja
Setelah sebulan, ada satu hal yang bikin gue agak sedih. Ternyata selama ini kami terlalu sibuk mengejar "liburan yang layak" sampai lupa bahwa waktu bersama nggak harus mahal. Anak gue nggak butuh tiket pesawat. Dia butuh Sabtu yang jelas ada acaranya.
Istri gue sekarang malah ngusul, "Gimana kalau tiap bulan kita sisihkan satu akhir pekan buat jalan lokal, satu akhir pekan buat di rumah aja?" Gue setuju. Karena ternyata yang bikin keluarga kecil di kota itu bahagia bukan liburan jauh, tapi ritme yang jelas dan waktu yang beneran dipakai buat bersama.
Kalau kamu dan keluarga lagi mikirin liburan tapi budget lagi mepet, coba deh versi sebulan ini. Nggak perlu langsung empat minggu, mulai dari dua akhir pekan dulu. Pilih tempat yang dekat, ramah anak, dan nggak bikin kamu capek di jalan. Setelah itu, rasain sendiri bedanya. Buat kami, bedanya kerasa banget — dan kami nggak mau balik ke pola lama.